"Kita tidak bisa membiarkan mereka pergi!" seru salah satu pemuda yang sebelumnya ditangkap suku Monrest. Dengan satu gerakan cepat, ia menusukkan tombaknya ke salah satu prajurit Monrest yang menyerah.

Pria itu terjatuh, memegang dadanya yang terluka parah, sebelum akhirnya tewas.

Melihat temannya membunuh prajurit Monrest, keempat pemuda lainnya ikut mengambil tombak dan membunuh mereka semua dengan bertubi-tubi melepaskan kemarahan mereka yang telah terpendam selama ini.

Lynx yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela napas. "Sudah cukup!" teriak Lynx, sambil menahan tombak dari salah satu tangan pemuda.

Para pemuda itu gemetar tetapi dengan wajah penuh kebencian, menjawab, "Mereka sudah sering membunuh dan menangkap keluarga kami. Jika kita membiarkannya, mereka akan membawa lebih banyak orang! Kita tidak bisa membiarkan mereka hidup!"

Lynx menatap para pemuda itu dengan tajam, meskipun dalam hatinya ia mengerti rasa sakit dan dendam yang dirasakan. "Kalian sudah membunuhnya, tidak perlu lagi kalian melampiaskan semua emosi kalian dengan cara seperti itu, apalagi kalian lihat, teman-teman kalian terlihat ketakutan." Katanya sambil menunjuk ke arah para wanita yang sebelumnya juga ditangkap bersama mereka.

Pemuda itu tidak menjawab, hanya menunduk dan berkata, "terima kasih, tanpa bantuanmu, kami pasti sudah tidak mungkin bisa diselamatkan".

Saat semuanya mulai tenang, Leena mendekat ke Lynx dengan air mata masih mengalir di wajahnya. Tanpa ragu, ia memeluk Lynx erat, membenamkan wajahnya di bahunya.

"Aku benar-benar takut kehilanganmu..." bisik Leena pelan, suaranya bergetar.

Lynx terdiam sejenak sebelum membalas pelukannya. "Aku bilang aku akan kembali, kan? Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja."

Leena menatap wajah Lynx, matanya dipenuhi rasa syukur. Tapi tiba-tiba, ia mendorong tubuh Lynx sedikit menjauh sambil meringis.

"Tapi, Lynx... kau bau sekali." Kata Leena sambil mengusap hidung dengan tangannya.

Lynx tertawa kecil, meskipun tubuhnya terasa berat. "Efek pil yang kau berikan padaku. Rupanya membuatku lebih kuat dan... lebih bau."

Leena mengusap-usap hidungnya dengan ekspresi geli dan jijik. "Kalau begitu, kita harus segera mencarikanmu sungai untuk mandi."

Lynx mengusap bagian belakang kepalanya sambil tersenyum malu. "Maafkan aku. Kalau aku bau, kau tidak perlu mendekat."

Leena menggeleng, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Tidak peduli seberapa bau kau, aku tetap lebih memilih kau di sini daripada... tidak sama sekali."

Mata mereka bertemu, menciptakan keheningan yang hangat. Namun, sebelum momen itu bisa bertahan lebih lama, Sherly menyela dengan suara keras.

"Tolong! Apa kalian bisa berhenti bermesraan di tengah hutan? Kita masih punya masalah besar!"

Sherly berdiri dengan tangan terlipat, memandang Lynx dan Leena dengan tatapan sinis. "Sementara kalian saling pandang seperti sepasang burung cinta, kita masih harus memikirkan bagaimana cara membawa semua orang ke tempat aman!"

Leena berbalik ke arah Sherly, suaranya mulai meninggi. "Sherly, kau bisa berhenti bersikap seperti ini sebentar saja? Lynx baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk kita semua!"

Sherly mendengus sambil mengangkat alis. "Dia memang selalu menjadi pahlawan ku, dia sudah berkali-kali menyelamatkan aku, tapi kamu lupa bahwa kita semua di sini masih dalam bahaya? Jangan sampai gara gara kamu, Lynx jadi tidak bisa fokus membantu kita semua disini."

Lynx hanya menghela napas panjang, terlalu lelah untuk membalas ucapan Sherly. "Sudah cukup, Sherly. Kita semua lelah. Kita akan membawa semua orang kembali dengan selamat."

Sherly berbalik dengan mendengus keras, tetapi diam-diam matanya menunjukkan rasa frustasi yang lebih dalam.

Ketika rombongan mulai bergerak, tubuh Lynx mendadak goyah. Leena yang berada di dekatnya langsung menangkap lengannya.

"Lynx, ada apa?" tanya Leena cemas.

Lynx mencoba berbicara, tetapi sebelum kata-kata keluar, ia jatuh pingsan. Tubuhnya yang besar membuat Leena dan Sherly harus bekerja keras untuk menahan agar ia tidak terjatuh ke tanah.

"Aku bilang apa tadi? Dia terlalu memaksakan diri gara-gara kamu!" ujar Sherly dengan nada kesal.

Namun, raut wajah Leena penuh kekhawatiran. "Kita harus membawanya. Dia butuh istirahat."

Dengan bantuan beberapa tawanan lainnya, mereka mengangkat tubuh Lynx dan membawanya bersama rombongan, berjalan perlahan menuju kampung.

Setelah mencapai area dekat jurang, Aliah yang sudah diselamatkan oleh Lynx langsung menunjuk ke arah bawah. "Kakakku Karim ada di sana! Kita harus menyelamatkannya!"

Beberapa tawanan mulai bekerja sama dengan Leena dan Sherly, menggunakan tali buatan dari akar dan kain untuk menurunkan seorang pria yang cukup ringan ke bawah.

Setelah beberapa jam yang melelahkan, mereka berhasil mengangkat tubuh Karim ke atas. Meski terlihat sangat lemah, ia terlihat cukup sehat.

Aliah langsung memeluk kakaknya erat sambil menangis. "Karim... kau masih hidup."

Karim tersenyum lemah. "Terima kasih... kalian semua."

Leena membantu merawat luka-luka Karim dengan herbal yang ia bawa, sementara Sherly berdiri di sisi lain, tampak tidak terlalu peduli.

"Apa yang terjadi pada Lynx?" Tanya Karim kepada Aliah.

"Dia sepertinya kelelahan, dia terlalu memaksakan diri untuk menolong kami." Kata Aliah.

Karim sangat berterima kasih kepada Lynx dan teman-temannya. Berkat mereka, adiknya dan teman-temannya bisa diselamatkan.

"Jadi kita sudah selesai di sini?" Sherly bertanya dengan nada datar. "Bisakah kita kembali sekarang?"

Leena memelototinya. "Kalau kau tidak mau membantu, setidaknya jangan bersikap seperti ini."

Sherly hanya mendesah, lalu berjalan menjauh, membuat semua orang semakin kesal.

"Kalian selamat semua?" Tatap Karim memandangi mereka satu persatu. "Kita harus segera kembali ke perkampungan dan menceritakan hal ini kepada kepala suku agar bisa bersiap-siap menghadapi kemarahan suku Monrest" Lanjutnya dengan semangat namun juga menunjukkan ekspresi khawatir.

Dengan Lynx yang masih pingsan dan Karim yang belum pulih sepenuhnya, rombongan bergerak perlahan menuju perkampungan. Meskipun mereka kelelahan, ada rasa lega yang mulai menyelimuti hati semua orang.

Tubuh Lynx dan Karim masih terbaring lemas di atas tandu, masing-masing diangkat dengan susah payah oleh tawanan yang sudah diselamatkan. Mereka bergerak perlahan kembali ke kampung Sinto, yang sebagian besar telah terbakar dan luluh lantak akibat serangan Monrest.

Leena dan Sherly berjalan di belakang rombongan, tubuh mereka penuh kotoran dan goresan akibat pertarungan sengit sebelumnya. Leena menoleh ke arah Lynx, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Apa kau pikir dia akan baik-baik saja?" tanya Leena dengan suara pelan.

Sherly hanya mendengus. "Kalau dia kuat, dia akan bertahan. Kalau tidak..." Ia berhenti sejenak, melihat ekspresi Leena yang tajam, lalu mengangkat bahu. "Kita hanya bisa berharap."

Seorang wanita tua dengan rambut abu-abu yang dikepang rapi menyambut mereka di gerbang kampung. Dia mengenakan pakaian sederhana dari kain tenun dan membawa sebuah tongkat kayu dengan ukiran simbol-simbol aneh.

"Namaku Dorna," katanya dengan suara rendah dan menenangkan. "Aku dukun suku Sinto. Cepat bawa mereka ke pondok penyembuhan. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka."

Pondok penyembuhan terletak di sisi kampung yang tidak tersentuh api. Bangunan itu penuh dengan aroma ramuan herbal dan asap dupa yang membumbung dari sebuah tungku kecil di tengah ruangan. Lynx dan Karim dibaringkan di atas tikar yang dihamparkan di lantai tanah.

"Aku butuh waktu untuk meramu obat bagi mereka," kata Dorna sambil memeriksa luka-luka Lynx. "tubuhnya tidak ada luka sama sekali tapi banyak bekas darah di tubuhnya. Dia hanya kelelahan, sepertinya dia memaksakan tubuhnya melampaui batasnya. Dan Karim..." ia menatap Karim. "Dia kehilangan banyak darah, tapi luka di tubuhnya juga tidak banyak, dia akan baik-baik saja ."

"Bagaimana bisa, kami melihat mereka terluka dan dilempar ke jurang" kata Aliah keheranan.

"Lynx telah mengobatiku sebelumnya saat di bawah jurang. Aku tidak tahu bagaimana cara dia mengobati, yang pasti luka-luka di badanku tidak sebanyak sebelumnya." Kata Karim menjelaskan.

Leena berjongkok di samping Lynx, menggenggam tangannya yang besar. "Dia orang yang sangat kuat. Tolong selamatkan dia." Leena tidak ingin memberitahu orang lain mengenai apa yang terjadi pada Lynx, karena dia tidak tau apa yang terjadi jika orang lain tau mengenai kekuatannya.

"Nenek, kenapa dia sangat bau" kata Aliah.

Dorna yang sedang membuat obat herbal hanya tersenyum dan mengatakan, "Dia sudah terlalu lama tidak mandi, bau pertempuran menempel di badannya. Nenek rasa dia perlu segera dibersihkan agar badannya bisa segar dan segera pulih."

"Baiklah, Nenek Dorna. Biarkan aku yang membersihkannya." Kata Leena.

"Tidak, biar aku saja yang membersihkan. Hanya aku yang pantas untuk melakukannya." Kata Sherly dengan marah, karena dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendekati Lynx.

Melihat Leena dan sherly berebutan ingin membersihkan Lynx, Aliah yang mengetahui kedekatan Lynx dengan Leena, segera berbisik kepada Dorna. Ia menceritakan bagaimana sikap Lynx terhadap Leena setelah berhasil mengalahkan Kargo.

Setelah memberikan ramuan obat herbal kepada Lynx, Dorna berkata, "mari ikut saya. Kamu sepertinya perlu istirahat. Kami sudah menyiapkan makanan untuk kalian," katanya sambil menarik tangan Sherly.

"Tapi aku..." Sherly hendak membantah, namun Aliah ikut menariknya, sehingga Sherly terpaksa ikut pergi bersama Dorna, Aliah dan Karim.

Karim yang sudah merasa membaik tidak ingin membuang waktu lebih banyak. Ia segera menceritakan semua kejadian kepada kepala suku dan Dorna agar mereka bisa segera mencari solusi.

Sementara itu Leena dengan hati-hati mulai membersihkan tubuh Lynx. Ia mengambil kain lembut dan air hangat, lalu dengan lembut menghapus noda darah dan debu yang menempel di kulitnya.

Leena heran melihat begitu banyak kotoran dan daki yang menempel di seluruh tubuh Lynx. "Astaga, kenapa tubuhnya bisa sekotor ini?" gumam Leena heran.

Saat membersihkan, Leena terkejut melihat perubahan pada tubuh Lynx. Kulit Lynx yang semula terlihat kusam dan kotor kini tampak bersih dan bersinar. Otot-ototnya yang kekar dan padat juga terlihat jelas, seakan-akan baru saja dilatih.

Tapi yang paling mengejutkan Leena adalah betapa halusnya kulit Lynx. Kulitnya bahkan terasa lebih halus daripada kulit wanita pada umumnya. "Astaga, kulitnya begitu halus melebihi kulitku," gumam Leena sambil menyusuri lengan Lynx dengan lembut. "Apa mungkin ini juga efek dari minum pil itu?"


